Sunday, November 8, 2009

masih menyerempet keempat tulisan Seniman Dapur tentang hasil obrolan ngalor ngidul ngetan ngulon

setelah sesi sore itu, hari ini topik yang sama kembali menghantui saat saya bertemu Tengku Firli Anggina untuk saling bertukar cerita dan meng-up date kabar, saling menginjeksikan positivity.

cinta.

mencintai dicintai.

menghantui dan sama bundet nya dengan pelajaran Diterangkan-Menerangkan dan Menerangkan-Diterangkan (saya cinta pelajaran Bahasa Indonesia sejak SD, tapi ga pernah mudheng kalo udah sampe bab yang ini).

"Cinta, deritanya tiada akhir..." itu menurut Ti Pat Kay di serial Kera Sakti.

"Jatuh cinta itu biasa saja"
saya setuju. arti kata cinta saat ini terlalu dilebih-lebihkan (terimakasih kepada media. sinetron terutama. untung belantika musik Indonesia masih punya Efek Rumah Kaca) tapi ironisnya, malah mengalami pendangkalan makna.
"Jika jatuh cinta itu buta, berdua kita akan tersesat. Saling mencari di dalam gelap. kedua mata kita gelap, lalu hati kita gelap, hati kita gelap, lalu hati kita gelap."

hasil obrolan saya, Seniman Dapur, Seniman Setrum, dan Seniman Lingkungan di sesi sore tempo hari tentang cinta pun beraneka macam.

"Cinta itu ya proses itu sendiri..." menurut Seniman Setrum.
"Ga ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. itu berarti bukan cinta. cinta itu kalau bertemu di tengah-tengah. cinta itu kalau saling. cinta itu jodoh."


"Cinta itu absurd, banyak sekali pengorbanan yang dilakukan atas namanya. Banyak sekali kematian, ironi, tragedi dan rasa sakit hati mengelilingi apa yang disebut cinta tadi. Peperangan pun dilakukan atas nama cinta." kata Eeyore.

entah kenapa pendapat terakhir dari Eeyore memacu saya untuk berpendapat.
menurut saya itu ego, bukan cinta.
ego itu rasanya seperti cinta, tapi bukan cinta.
menurut saya,
cinta itu kesederhanaan.
Cinta itu bentuk paling sederhana dari kasih sayang, justru.
Seperti 4/8 adalah 1/2.
Cinta itu saat segala sesuatu yang dirasakan dalam sepersekian detik menjadi tampak sederhana dan bisa membuat tersenyum.
Dan rasa sederhana itu biasanya cuma datang dalam waktu singkat dalam pikiran kita, manusia, dan pergi menghilang kembali, diganti ego.
Karena perasaan "sederhana" itu perasaan divine.
Manusia (justru) butuh effort besar untuk merasakan rasa "sederhana" tadi.

cinta yang sungguh itu justru cinta yang sederhana.

kesederhanaan itu salah satu bentuk cinta yang tulus.

tapi sesuatu yang sederhana bukan berarti mudah.
para seniman matematika kadang bisa njelimet saat ingin menyederhanakan sesuatu, bukan?

ahh, puisi "Aku Ingin" dari Sapardi Joko Damono tiba-tiba kembali termaknai dan menjadi lebih dalam.

Seniman Lingkungan juga punya quotes berkaitan dengan topik ini:
"Cara mencintai yang baik adalah mencintai dengan penuh kesadaran bahwa yang kita cintai itu akan hilang"


3 comments:

  1. ..karena yang tidak hilang itu hanyalah cinta kepada Allah :) nice writing manggi!!!

    ReplyDelete
  2. hai...
    kenalin, saya mocha.
    iseng2 cari tulisan tentang "cinta", saya dapet tulisan ini, mmm... lumayan...
    oh iya kalo ada waktu mungkin dirimu sudi bwat ngeliat blogku di harmoniheninghujan.blogspot.com

    ReplyDelete